Lulus dari sekolah Madrasah Aliyah Swasta Sumber
Bungur Pakong, aku berencana melanjutkan kuliah di luar daerah Madura, tepatnya
di Yogyakarta, tujuan utamaku yaitu kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan
proses yang begitu panjang, daftar dan mengikuti ujian masuk, setelah itu
menunggu pengumuman lulus. Dan Alhamdulillah aku dinyatakan lulus dan diterima
di kampus tersebut. Setelah dinyatakan aku diterima di kampus UIN Sunan
Kalijaga Aku berangkat ke Yogyakarta
diantarkan oleh si Mbahku (ibu dari pamanku). Sampai di Yogyakarta aku tinggal
bersama keluarga paman. Setelah beberapa bulan di rumah paman, aku ditawarin
paman untuk tetap tinggal di rumah, di kos, atau di pondok.
Tawaran paman masih terngiang-ngiang di telingaku,
setelah kemarin ditanya mau tetap di rumah, di pondok atau di kos. Aku berbaring
di atas kasur sambil memikirkan pertanyaan itu. Memilih keputusan yang tepat
untuk ku sampaikan pada paman. Lama aku memikirkannya, akhirnya aku bulatkan
niat untuk memilih jawaban yang pantas buatku. Aku membuka pintu kamar,
menghampiri paman yang sedang duduk santai di ruang tamu, aku duduk di sebelah
paman.
“Paman, mengenai pertanyaan kemaren saya sudah
memikirkan jawabannya”, ucapku pada paman. Paman hanya menganggukkan kepala
sembari berucap “Iya” dan diam menunggu kalimatku selanjutnya.
“Saya di pondok aja Man, daripada di kos
sendirian,” lanjutku.
“Baiklah. Kalau begitu aku carikan pondok
pesantren hari ini”, jawab paman sambil menyunggingkan senyum.
Seharian ini paman mencarikan pondok pesantren di
sekitar Yogyakarta. Melihat-lihat di koran dan menghubungi pihak-pihak yang
berkaitan dengan pondok pesantren. Waktu aku masih MTs dan MA dulu, tak pernah
terbesit rasa ingin nyantri di pondok pesantren, walaupun kedua sekolahku
itu berada dalam lingkungan pondok pesantren. Kini entah kenapa, setelah aku
diterima di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yaitu UIN Sunan Kalijaga,
aku memutuskan untuk berada di pondok pesantren saja, itupun dengan berbagai
pertimbangan. Lama melamun, kembali aku membolak-balikkan koran mencari
informasi tentang pondok pesantren. Kemudian, paman yang dari tadi juga mencari
informasi pondok pesantren sekarang mendongakkan kepala, menatapku dan
bertanya.
“Paman sudah mendapatkan informasi pondok
pesantren, ini ada dua pondok pesantren yang tertera di koran Al-Munawwir dan
Wahid Hasyim.” Sambil menunjukkannya kepadaku. Aku hanya manggut-manggut saja.
“Al-Munawwir itu terletak di daerah Bantul dan
lumayan jauh dari UIN, kalau Wahid Hasyim itu terletak di daerah Sleman, ya...
lumayan deketlah dari UIN, sekitar 15 menit kalau naik sepeda ontel”,
Lanjutnya, menjelaskan kepadaku. Kembali aku hanya manggut-manggut saja
bertanda paham apa yang dijelaskannya.
“Terus, kamu mau di pondok yang mana?” lanjutnya
lagi menanyakanku.
Kali
ini tanpa pertimbangan lagi, aku langsung menunjuk nama salah satu pondok
pesantren di koran itu, “Al-Munawwir Man”, kataku tanpa sedikitpun keraguan
dalam hatiku.
“Baiklah,
aku akan hubungi pengurusnya langsung.” Jawab paman sambil memencet tombol HP
yang dipegangnya, mengetik nomor telepon yang tertera di koran.
***
Baju sudah ku masukkan ke dalam tas. Peralatan
make up, sudah. Peralatan mandi dan buku-buku juga sudah kumasukkan tas
semuanya. Malam ini sudah ku mantapkan niat untuk berangkat ke pondok pesantren
yang telah ku pilih kemarin. Namun, rasanya campur aduk antara senang dan
khawatir. Senang, karena aku nanti di sana bisa berkenalan dengan banyak teman,
tentunya dari berbagai penjuru dunia. Khawatirnya, apa aku bisa kerasan di sana
nanti.
“Bagaimana, sudah siap semuanya?” tanya paman
meyakinkanku.
“Sudah man”, sambil menganggukkan kepala.
“Ayo, bawa barang-barangmu ke mobil, jangan
sampai ada yang ketinggalan yang mau dibawa”, ajak paman menuju ke mobil yang
diparkir depan rumah.
Paman mulai menyalakan mesin mobilnya, sebelum
melajukan mobil aku dan paman berpamitan kepada bude dan tak terlihat
sepupu-sepuku karena mereka sudah tertidur lelap sejak dari tadi habis sholat
maghrib, tak lama kemudian mobil pun melaju. Di dalam mobil hanya ada aku dan
paman, sedangkan bude harus di rumah menjaga sepupu-sepupuku yang masih
kecil-kecil. Sempat ku tertidur di dalam mobil, lalu aku bangun karena paman
mendadak menghentikan mobilnya pas di lampu merah. Aku lihat jam tanganku,
ternyata sudah jam 09:15. Paman terus melajukan mobilnya tanpa lelah untuk
mencapai tempat yang dituju.
Paman mulai memperlambat laju mobilnya, karena
sudah sampai di halaman pondok pesantren. Aku lihat lagi jam tanganku jam
09:30, perjalanan setengah jam dari tempat paman menuju pondok pesantren. Di
pinggir jalan, dekat dengan pintu gerbang, tertera sebuah nama pondok tersebut
dengan huruf kapital semuanya “ SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN AL-MUNAWWIR
KRAPYAK YOGYAKARTA” aku memandangnya sambil tersenyum. Terbesit rasa kagum di
dalam hati. Rasanya masih belum percaya, “benarkah aku akan tinggal di pondok
pesantren ini?” hatiku masih bertanya-tanya. Lamunanku buyar, ketika paman
mengajakku masuk,”ayo cepat masuk?” ajak paman mendahuluiku. Aku dan paman di
ajak masuk ke ruang tamu oleh salah satu santri yang dari tadi bersih-bersih di
ruang tamu ndalem.
“Silahkan duduk, saya panggilkan ibu Nyai dulu.” Ujarnya
kepada paman. Paman hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Beberapa menit kemudian, ibu Nyai menghampiri aku
dan paman yang sedang duduk di ruang tamu ndalem. Kemudian, paman dan ibu Nyai
berbincang-bincang lama yang pada akhirnya paman menitipkan aku di pondok
pesantren Al-Munawwir ini. Setelah selesai berbincang-bincang, ibu Nyai
menyuruh santri ndalem itu mengantarkanku ke pondok yang akan aku tempati.
Paman juga ikut untuk membayar perlengkapan administrasi. Setelah semuanya
selesai, paman langsung pamit dan pulang. Santri ndalem itu juga pamit kepadaku
untuk menyelesaikan tugasnya di ndalem lagi. Aku menganggukkan kepala dan
tersenyum membalas senyumannya.
***
Aku masih merasa canggung, karena baru pertama
kalinya berada di pondok pesantren. Namun, setelah melewati hari demi hari,
rasa canggung itu akhirnya bisa ditepis juga, berkenalan dengan santri-santri
yang sekamar dan santri-santri di kamar yang lainnya. Aku tak bisa mengingat
semua nama-namanynya, yang aku ingat waktu itu ada mbak Umroh dan Hanah. Mbak
Umroh sudah lumayan lama berada di pondok pesantren, ya istilahnya seniorku di
pondok pesantren ini. Sedangkan hanah, masih belum lama-lama juga di pondok pesantren,
baru tiga harian berada di pondok pesantren. Rasanya senang bisa mempunyai
banyak teman apalagi dari berbagai luar daerah.
Semakin lama aku berada di pondok pesantren,
semakin bertambah pula rasa kagumku terhadap pondok pesantren dengan berbagai
informasi mengenai pondok pesantren Al-Munawwir. Mbak Umroh yang merupakan
santri senior menceritakan kepadaku perihal pondok pesantren Al-Munawwir.
Almunawwir merupakan pondok pesantren tertua di Jawa, yang didirika oleh Mbah
KH. Munawwir. Ia pun menjelaskan apa saja yang dipelajari di pondok tersebut, peraturan-peraturan,
pengasuh, dan hal-hal lain terkait Pondok Almunawwir.
***
Hampir mencapai satu tahun aku berada di pondok
pesantren Al-Munawwir, hari demi hari aku lalui dengan berbagai macam kegiatan,
baik kegiatan yang di kampus maupun kegiatan yang ada di pondok pesantren itu
sendiri. Tahap demi tahap aku mencoba menerima segala keganjalan yang aku alami,
saat aku mengaji kitab bersama para asatidz yang setiap malamnya selalu
berganti, beda ustadz beda juga kitab yang dikajinnya. Namun pada kenyataannya
keganjalan-keganjalan yang ada dalam hati tak bisa tertepis juga. Pada akhirnya
keganjalan itu keluar melalui mulutku yang memang pada dasarnya sudah tidak
tahan untuk dikeluarkannya.
“Mbak, aku melihat sesuatu yang membuatku takut,
tapi buatku penasaran.” Ujarku kepada mbak Umroh yang lagi tiduran di kamarnya.
“Kamu melihat apa dan dimana?” Tanyanya
menanggapi ujaranku.
“Aku melihat sesosok lelaki yang tubuhnya serba
hitam dan rambutnya model mohaok (model rambut cowok gaul), tapi semua itu
tidak tampak secara nyata, dan itu adalah bayangan yang tampak di kaca, di
ruang kelas waktu mau ngaji kitab.” Jawabku dengan wajah yang masih ketakutan.
Aku masih mengingat dengan jelas kejadian pada
malam selasa itu. Waktu itu, kebetulan aku tidak ada jam ngaji kitab, di suruh
pengurus Madin (Madrasah diniyah) untuk memberikan Bisyaroh kepada
ustadz Salman, kebetulan ustadz Salman mengajar di kelas dua. Melihat santri
kelas dua sudah siap-siap berangkat, akupun ikut bersiap-siap.
“Han, aku ikut ngaji kelasmu ya, sekalian mau
ngasihin Bisyaroh Ustadz Salman.” Tuturku pada Hana yang lagi siap-siap
berangkat ngaji.
“Iya mbak, ayo mbak ni dah mau berangkat.” Ajaknya,
sambil berjalan menuju rak-rak sandal dan sepatu yang terletak di dekat kamar
mandi. Aku mengikutinya dari belakang.
Aku dan Hana, juga dua temanya berangkat menuju
kelas dua di lantai dua gedung aula AB. Kami
berempat satu persatu menaiki tangga menuju lantai dua, lalu kami langsung
masuk ke kelas. Kelas dua terletak di sebelah selatan ndalem Ibu Nyai, paling
pojok sendiri. Saat itu di halaman masjid ramai dengan acara khatmil Qur’an
pondok pesantren Ali Maksum, pada saat itu juga kami berempat melihat acara itu
dari kaca jendela kelas dua sambil menunggu ustadz Salman datang. Hampir lima
belas menit aku, Hana dan dua temannya menunggu ustadz Salman datang. Pada
mulanya aku sudah mengajak mereka pulang, karena pikirku ustadz Salman tidak
akan datang, karena sudah melewati waktu yang ditentukan. Namun, mereka masih
asyik menonton acara khatmil Qur’an. Aku mendengar suara-suara anak kecil
menangis di dekat musholla, anak kecil itu menangis sambil menjerit-jerit,
bukan seperti biasanya. Hana dan kedua temannya berdiri dekat jendela sebelah
barat, mereka ngobrol-ngobrol dan menikmati acara tersebut. Sedangkan aku
memisahkan diri dari mereka, berada di depan papan tulis, asyik menulis-nulis
mufrodhat bahasa arab. Suara tangisan anak kecil itu sudah berhenti, aku masih
tetap menulis-nilis di papan tulis.. Setelah asyik menulis di papan tulis,
tanpa sengaja mataku melihat ke arah
kaca jendela yang terletak di sebelah utara, jendela itu kelihatan gelap sekali
karena berdempetan dengan gedung musholla, tapi dari dalam kelas dua lampu
sedang menyala, sehingga kalau melihat kaca nampaklah bayanganku. Mataku
langsung terbelalak kaget melihat sesosok pria berambut muhaok dan semua
tubuhnya gelap, karena aku tak bisa melihat raut wajahnya, dia sedang duduk di
kursi dan menggaruk-garuk kepalanya sambil melihat ke arahku yang lagi di depan
papan tulis. Pikiranku saat itu benar-benar kosong, sehingga aku tercengang
lama, tapi masih terlintas sebuah kecurigaan dalam benakkku, “di kelas kan cuma
ada orang berempat, kenapa jadi lima orang, dan satunya seorang pria? Padahal
di kelas kan gak ada pria?” batinku bertanya-tanya, sangat heran. Kembali aku
arahkan pandanganku ke kaca jendela itu, ternyata sosok pria itu masih ada dan
tetap pada posisi semula, karena masih belum percaya, aku arahkan pandanganku
ke semua kursi di dalam kelas itu, pandanganku tepat pada posisi kursi yang
didudukinya, disitulah aku baru menyadari, kalau yang aku lihat itu bukanlah
sosok pria yang nyata. Karena di atas kursi tidak ada siapapun yang duduk, dan
di dalam kelas hanya ada empat orang saja dan itupun gak ada satupun pria
diantara kita berempat. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung mengajak mereka
pulang.
“Ayo kita pulang saja.” Ajakkku pada mereka
buru-buru. Mereka masih di dekat jendela sebelah barat.
“Lah kenapa mbak?” Tanya Hana kepadaku penasaran.
“Pokonya harus pulang.” Jawabku dengan wajah yang
ketakutan.
“Mbak pasti lihat sesuatu kan?” Tanyanya lagi
tambah penasaran. Tapi aku tak menjawab pertanyaannya, aku langsung mengambil
kitabku yang ku letakkan di atas meja ustadz dan langsung segera melangkahkan
kaki keluar, langsung kembali lagi ke pondok pesantren. Lalu, mereka akhirnya
mengikutiku di belakang, karena juga merasa takut. Sampai di pondok aku
langsung bercerita ke teman-teman yang lainnya. Mereka menanggapi ceritaku dan
mereka bahkan menambah cerita-cerita yang menyeramkan lainnya, yang itu juga
menambah ketakutanku. Tak hanya pada waktu itu saja, pernah juga aku melihat
bayangan sosok pria yang rambutnya juga sama di jendela kaca aula AB yang dekat
dengan rumah salah satu ustadzku, ya memang ruangan disitu gelap, karena
lampunya belum dinyalakan. Waktu itu aku mau pergi jamaah sholat maghrib ke
masjid. Awalnya aku kira bayangan itu
memang sesosok pria yang mau lewat gang itu, akhirnya aku memperlambat jalanku,
setelah hampir mendekati mulut gang aku berhenti, tapi tidak ada sosok pria
yang lewat disitu. “Kok gak lewat-lewat sih?” Tanyaku dalam batin. Akhirnya tanpa
banyak berpikir aku langsung mempercepat langkahku menuju masjid karena merasa
takut.
Pada malam itu juga, aku sulit memejamkan mataku.
Karena selalu terlintas bayangan-bayangan pria di jendela itu. Dan untuk pergi
ke kamar mandi pun aku merasa takut dan harus ada yang menemaninya, atau
sekedar mengantarkanku ke kamar mandi dan menungguiku sampai selesai. Bahkan
sampai saat ini pun aku masih mengingatnya, dan selalu timbul pertanyaan dalam
hatiku, “sebenarnya pria di kaca jendela itu manusia apa bukan sih?”. Kalau
mendengar cerita-cerita dari para senior, katanya di aula AB itu memang ada
semacam mahluk halus, yang mungkin rupanya selalu berbeda-beda setiap kali mau
menampakkan diri kepada manusia. Bulu kudukku berdiri merinding mendengarnya.
Seumur hidupku baru kali ini aku ditampakkan sesuatu
yang tak pernah aku inginkan sebelumnya, dan itu membuatku sangat mengejutkan. Dan
bahkan sampai saat ini aku selalu merasa takut ketika ke kelas seorang diri.
Masih terngiang-ngiang dengan sosok wajah yang tak begitu jelas itu.
Setelah berbulan-bulan lamanya, rasa takut itu
sudah mulai menghilang dari benakku, kecuali ketika ada seseorang yang
menyinggung-nyinggung atau bercerita mengenai hal-hal yang menyeramkan. Rasa
takut itu bisa tertepiskan ketika aku kembali teringat tentang cerita mbak
Umroh tentang pondok pesantren Al-Munawwir kepadaku. Walaupun pada kenyataannya
hampir semua pondok pesantren mempunyai cerita yang unik dan menyeramkan. Hal
itu menjadi sebuah tantangan bagi semua santri, karena itu merupakan ujian kuat
dan lemahnya keimanan seseorang. (Oza Al-Khair)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar