“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah,ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri,kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Jumat, 31 Oktober 2014

DIBALIK KEINDAHAN PESANTREN

Lulus dari sekolah Madrasah Aliyah Swasta Sumber Bungur Pakong, aku berencana melanjutkan kuliah di luar daerah Madura, tepatnya di Yogyakarta, tujuan utamaku yaitu kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan proses yang begitu panjang, daftar dan mengikuti ujian masuk, setelah itu menunggu pengumuman lulus. Dan Alhamdulillah aku dinyatakan lulus dan diterima di kampus tersebut. Setelah dinyatakan aku diterima di kampus UIN Sunan Kalijaga  Aku berangkat ke Yogyakarta diantarkan oleh si Mbahku (ibu dari pamanku). Sampai di Yogyakarta aku tinggal bersama keluarga paman. Setelah beberapa bulan di rumah paman, aku ditawarin paman untuk tetap tinggal di rumah, di kos, atau di pondok.
Tawaran paman masih terngiang-ngiang di telingaku, setelah kemarin ditanya mau tetap di rumah, di pondok atau di kos. Aku berbaring di atas kasur sambil memikirkan pertanyaan itu. Memilih keputusan yang tepat untuk ku sampaikan pada paman. Lama aku memikirkannya, akhirnya aku bulatkan niat untuk memilih jawaban yang pantas buatku. Aku membuka pintu kamar, menghampiri paman yang sedang duduk santai di ruang tamu, aku duduk di sebelah paman.
“Paman, mengenai pertanyaan kemaren saya sudah memikirkan jawabannya”, ucapku pada paman. Paman hanya menganggukkan kepala sembari berucap “Iya” dan diam menunggu kalimatku selanjutnya.
“Saya di pondok aja Man, daripada di kos sendirian,” lanjutku.
“Baiklah. Kalau begitu aku carikan pondok pesantren hari ini”, jawab paman sambil menyunggingkan senyum.
Seharian ini paman mencarikan pondok pesantren di sekitar Yogyakarta. Melihat-lihat di koran dan menghubungi pihak-pihak yang berkaitan dengan pondok pesantren. Waktu aku masih MTs dan MA dulu, tak pernah terbesit rasa ingin nyantri di pondok pesantren, walaupun kedua sekolahku itu berada dalam lingkungan pondok pesantren. Kini entah kenapa, setelah aku diterima di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yaitu UIN Sunan Kalijaga, aku memutuskan untuk berada di pondok pesantren saja, itupun dengan berbagai pertimbangan. Lama melamun, kembali aku membolak-balikkan koran mencari informasi tentang pondok pesantren. Kemudian, paman yang dari tadi juga mencari informasi pondok pesantren sekarang mendongakkan kepala, menatapku dan bertanya.
“Paman sudah mendapatkan informasi pondok pesantren, ini ada dua pondok pesantren yang tertera di koran Al-Munawwir dan Wahid Hasyim.” Sambil menunjukkannya kepadaku. Aku hanya manggut-manggut saja.
“Al-Munawwir itu terletak di daerah Bantul dan lumayan jauh dari UIN, kalau Wahid Hasyim itu terletak di daerah Sleman, ya... lumayan deketlah dari UIN, sekitar 15 menit kalau naik sepeda ontel”, Lanjutnya, menjelaskan kepadaku. Kembali aku hanya manggut-manggut saja bertanda paham apa yang dijelaskannya.
“Terus, kamu mau di pondok yang mana?” lanjutnya lagi menanyakanku.
Kali ini tanpa pertimbangan lagi, aku langsung menunjuk nama salah satu pondok pesantren di koran itu, “Al-Munawwir Man”, kataku tanpa sedikitpun keraguan dalam hatiku.
“Baiklah, aku akan hubungi pengurusnya langsung.” Jawab paman sambil memencet tombol HP yang dipegangnya, mengetik nomor telepon yang tertera di koran.
***
Baju sudah ku masukkan ke dalam tas. Peralatan make up, sudah. Peralatan mandi dan buku-buku juga sudah kumasukkan tas semuanya. Malam ini sudah ku mantapkan niat untuk berangkat ke pondok pesantren yang telah ku pilih kemarin. Namun, rasanya campur aduk antara senang dan khawatir. Senang, karena aku nanti di sana bisa berkenalan dengan banyak teman, tentunya dari berbagai penjuru dunia. Khawatirnya, apa aku bisa kerasan di sana nanti.
“Bagaimana, sudah siap semuanya?” tanya paman meyakinkanku.
“Sudah man”, sambil menganggukkan kepala.
“Ayo, bawa barang-barangmu ke mobil, jangan sampai ada yang ketinggalan yang mau dibawa”, ajak paman menuju ke mobil yang diparkir depan rumah.
Paman mulai menyalakan mesin mobilnya, sebelum melajukan mobil aku dan paman berpamitan kepada bude dan tak terlihat sepupu-sepuku karena mereka sudah tertidur lelap sejak dari tadi habis sholat maghrib, tak lama kemudian mobil pun melaju. Di dalam mobil hanya ada aku dan paman, sedangkan bude harus di rumah menjaga sepupu-sepupuku yang masih kecil-kecil. Sempat ku tertidur di dalam mobil, lalu aku bangun karena paman mendadak menghentikan mobilnya pas di lampu merah. Aku lihat jam tanganku, ternyata sudah jam 09:15. Paman terus melajukan mobilnya tanpa lelah untuk mencapai tempat yang dituju.
Paman mulai memperlambat laju mobilnya, karena sudah sampai di halaman pondok pesantren. Aku lihat lagi jam tanganku jam 09:30, perjalanan setengah jam dari tempat paman menuju pondok pesantren. Di pinggir jalan, dekat dengan pintu gerbang, tertera sebuah nama pondok tersebut dengan huruf kapital semuanya “ SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN AL-MUNAWWIR KRAPYAK YOGYAKARTA” aku memandangnya sambil tersenyum. Terbesit rasa kagum di dalam hati. Rasanya masih belum percaya, “benarkah aku akan tinggal di pondok pesantren ini?” hatiku masih bertanya-tanya. Lamunanku buyar, ketika paman mengajakku masuk,”ayo cepat masuk?” ajak paman mendahuluiku. Aku dan paman di ajak masuk ke ruang tamu oleh salah satu santri yang dari tadi bersih-bersih di ruang tamu ndalem.
“Silahkan duduk, saya panggilkan ibu Nyai dulu.” Ujarnya kepada paman. Paman hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Beberapa menit kemudian, ibu Nyai menghampiri aku dan paman yang sedang duduk di ruang tamu ndalem. Kemudian, paman dan ibu Nyai berbincang-bincang lama yang pada akhirnya paman menitipkan aku di pondok pesantren Al-Munawwir ini. Setelah selesai berbincang-bincang, ibu Nyai menyuruh santri ndalem itu mengantarkanku ke pondok yang akan aku tempati. Paman juga ikut untuk membayar perlengkapan administrasi. Setelah semuanya selesai, paman langsung pamit dan pulang. Santri ndalem itu juga pamit kepadaku untuk menyelesaikan tugasnya di ndalem lagi. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum membalas senyumannya.
***
Aku masih merasa canggung, karena baru pertama kalinya berada di pondok pesantren. Namun, setelah melewati hari demi hari, rasa canggung itu akhirnya bisa ditepis juga, berkenalan dengan santri-santri yang sekamar dan santri-santri di kamar yang lainnya. Aku tak bisa mengingat semua nama-namanynya, yang aku ingat waktu itu ada mbak Umroh dan Hanah. Mbak Umroh sudah lumayan lama berada di pondok pesantren, ya istilahnya seniorku di pondok pesantren ini. Sedangkan hanah, masih belum lama-lama juga di pondok pesantren, baru tiga harian berada di pondok pesantren. Rasanya senang bisa mempunyai banyak teman apalagi dari berbagai luar daerah.
Semakin lama aku berada di pondok pesantren, semakin bertambah pula rasa kagumku terhadap pondok pesantren dengan berbagai informasi mengenai pondok pesantren Al-Munawwir. Mbak Umroh yang merupakan santri senior menceritakan kepadaku perihal pondok pesantren Al-Munawwir. Almunawwir merupakan pondok pesantren tertua di Jawa, yang didirika oleh Mbah KH. Munawwir. Ia pun menjelaskan apa saja yang dipelajari di pondok tersebut, peraturan-peraturan, pengasuh, dan hal-hal lain terkait Pondok Almunawwir.
***
Hampir mencapai satu tahun aku berada di pondok pesantren Al-Munawwir, hari demi hari aku lalui dengan berbagai macam kegiatan, baik kegiatan yang di kampus maupun kegiatan yang ada di pondok pesantren itu sendiri. Tahap demi tahap aku mencoba menerima segala keganjalan yang aku alami, saat aku mengaji kitab bersama para asatidz yang setiap malamnya selalu berganti, beda ustadz beda juga kitab yang dikajinnya. Namun pada kenyataannya keganjalan-keganjalan yang ada dalam hati tak bisa tertepis juga. Pada akhirnya keganjalan itu keluar melalui mulutku yang memang pada dasarnya sudah tidak tahan untuk dikeluarkannya.
“Mbak, aku melihat sesuatu yang membuatku takut, tapi buatku penasaran.” Ujarku kepada mbak Umroh yang lagi tiduran di kamarnya.
“Kamu melihat apa dan dimana?” Tanyanya menanggapi ujaranku.
“Aku melihat sesosok lelaki yang tubuhnya serba hitam dan rambutnya model mohaok (model rambut cowok gaul), tapi semua itu tidak tampak secara nyata, dan itu adalah bayangan yang tampak di kaca, di ruang kelas waktu mau ngaji kitab.” Jawabku dengan wajah yang masih ketakutan.
Aku masih mengingat dengan jelas kejadian pada malam selasa itu. Waktu itu, kebetulan aku tidak ada jam ngaji kitab, di suruh pengurus Madin (Madrasah diniyah) untuk memberikan Bisyaroh kepada ustadz Salman, kebetulan ustadz Salman mengajar di kelas dua. Melihat santri kelas dua sudah siap-siap berangkat, akupun ikut bersiap-siap.
“Han, aku ikut ngaji kelasmu ya, sekalian mau ngasihin Bisyaroh Ustadz Salman.” Tuturku pada Hana yang lagi siap-siap berangkat ngaji.
“Iya mbak, ayo mbak ni dah mau berangkat.” Ajaknya, sambil berjalan menuju rak-rak sandal dan sepatu yang terletak di dekat kamar mandi. Aku mengikutinya dari belakang.
Aku dan Hana, juga dua temanya berangkat menuju kelas dua di lantai dua gedung aula AB.  Kami berempat satu persatu menaiki tangga menuju lantai dua, lalu kami langsung masuk ke kelas. Kelas dua terletak di sebelah selatan ndalem Ibu Nyai, paling pojok sendiri. Saat itu di halaman masjid ramai dengan acara khatmil Qur’an pondok pesantren Ali Maksum, pada saat itu juga kami berempat melihat acara itu dari kaca jendela kelas dua sambil menunggu ustadz Salman datang. Hampir lima belas menit aku, Hana dan dua temannya menunggu ustadz Salman datang. Pada mulanya aku sudah mengajak mereka pulang, karena pikirku ustadz Salman tidak akan datang, karena sudah melewati waktu yang ditentukan. Namun, mereka masih asyik menonton acara khatmil Qur’an. Aku mendengar suara-suara anak kecil menangis di dekat musholla, anak kecil itu menangis sambil menjerit-jerit, bukan seperti biasanya. Hana dan kedua temannya berdiri dekat jendela sebelah barat, mereka ngobrol-ngobrol dan menikmati acara tersebut. Sedangkan aku memisahkan diri dari mereka, berada di depan papan tulis, asyik menulis-nulis mufrodhat bahasa arab. Suara tangisan anak kecil itu sudah berhenti, aku masih tetap menulis-nilis di papan tulis.. Setelah asyik menulis di papan tulis, tanpa sengaja mataku  melihat ke arah kaca jendela yang terletak di sebelah utara, jendela itu kelihatan gelap sekali karena berdempetan dengan gedung musholla, tapi dari dalam kelas dua lampu sedang menyala, sehingga kalau melihat kaca nampaklah bayanganku. Mataku langsung terbelalak kaget melihat sesosok pria berambut muhaok dan semua tubuhnya gelap, karena aku tak bisa melihat raut wajahnya, dia sedang duduk di kursi dan menggaruk-garuk kepalanya sambil melihat ke arahku yang lagi di depan papan tulis. Pikiranku saat itu benar-benar kosong, sehingga aku tercengang lama, tapi masih terlintas sebuah kecurigaan dalam benakkku, “di kelas kan cuma ada orang berempat, kenapa jadi lima orang, dan satunya seorang pria? Padahal di kelas kan gak ada pria?” batinku bertanya-tanya, sangat heran. Kembali aku arahkan pandanganku ke kaca jendela itu, ternyata sosok pria itu masih ada dan tetap pada posisi semula, karena masih belum percaya, aku arahkan pandanganku ke semua kursi di dalam kelas itu, pandanganku tepat pada posisi kursi yang didudukinya, disitulah aku baru menyadari, kalau yang aku lihat itu bukanlah sosok pria yang nyata. Karena di atas kursi tidak ada siapapun yang duduk, dan di dalam kelas hanya ada empat orang saja dan itupun gak ada satupun pria diantara kita berempat. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung mengajak mereka pulang.
“Ayo kita pulang saja.” Ajakkku pada mereka buru-buru. Mereka masih di dekat jendela sebelah barat.
“Lah kenapa mbak?” Tanya Hana kepadaku penasaran.
“Pokonya harus pulang.” Jawabku dengan wajah yang ketakutan.
“Mbak pasti lihat sesuatu kan?” Tanyanya lagi tambah penasaran. Tapi aku tak menjawab pertanyaannya, aku langsung mengambil kitabku yang ku letakkan di atas meja ustadz dan langsung segera melangkahkan kaki keluar, langsung kembali lagi ke pondok pesantren. Lalu, mereka akhirnya mengikutiku di belakang, karena juga merasa takut. Sampai di pondok aku langsung bercerita ke teman-teman yang lainnya. Mereka menanggapi ceritaku dan mereka bahkan menambah cerita-cerita yang menyeramkan lainnya, yang itu juga menambah ketakutanku. Tak hanya pada waktu itu saja, pernah juga aku melihat bayangan sosok pria yang rambutnya juga sama di jendela kaca aula AB yang dekat dengan rumah salah satu ustadzku, ya memang ruangan disitu gelap, karena lampunya belum dinyalakan. Waktu itu aku mau pergi jamaah sholat maghrib ke masjid. Awalnya aku kira  bayangan itu memang sesosok pria yang mau lewat gang itu, akhirnya aku memperlambat jalanku, setelah hampir mendekati mulut gang aku berhenti, tapi tidak ada sosok pria yang lewat disitu. “Kok gak lewat-lewat sih?” Tanyaku dalam batin. Akhirnya tanpa banyak berpikir aku langsung mempercepat langkahku menuju masjid karena merasa takut.
Pada malam itu juga, aku sulit memejamkan mataku. Karena selalu terlintas bayangan-bayangan pria di jendela itu. Dan untuk pergi ke kamar mandi pun aku merasa takut dan harus ada yang menemaninya, atau sekedar mengantarkanku ke kamar mandi dan menungguiku sampai selesai. Bahkan sampai saat ini pun aku masih mengingatnya, dan selalu timbul pertanyaan dalam hatiku, “sebenarnya pria di kaca jendela itu manusia apa bukan sih?”. Kalau mendengar cerita-cerita dari para senior, katanya di aula AB itu memang ada semacam mahluk halus, yang mungkin rupanya selalu berbeda-beda setiap kali mau menampakkan diri kepada manusia. Bulu kudukku berdiri merinding mendengarnya.
Seumur hidupku baru kali ini aku ditampakkan sesuatu yang tak pernah aku inginkan sebelumnya, dan itu membuatku sangat mengejutkan. Dan bahkan sampai saat ini aku selalu merasa takut ketika ke kelas seorang diri. Masih terngiang-ngiang dengan sosok wajah yang tak begitu jelas itu.
Setelah berbulan-bulan lamanya, rasa takut itu sudah mulai menghilang dari benakku, kecuali ketika ada seseorang yang menyinggung-nyinggung atau bercerita mengenai hal-hal yang menyeramkan. Rasa takut itu bisa tertepiskan ketika aku kembali teringat tentang cerita mbak Umroh tentang pondok pesantren Al-Munawwir kepadaku. Walaupun pada kenyataannya hampir semua pondok pesantren mempunyai cerita yang unik dan menyeramkan. Hal itu menjadi sebuah tantangan bagi semua santri, karena itu merupakan ujian kuat dan lemahnya keimanan seseorang. (Oza Al-Khair)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar