“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah,ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri,kehidupan menjadi tidak terarah...” Qatâdah, Tafsîr al-Qurthûbî

Jumat, 31 Oktober 2014

Cerutu Abah Kakung



 “ Kholik,,,,Kholiiiiiik,,,,Kholiiiiiiiiiiiiiiik,,,,”
Suara itu semakin mengeras, geram, tanduk tanduk di kepalanya seolah bermunculan. Begidik, menakutkan dan membuat jemari - jemari bocah cilik merapat mencengkeram apapun yang dapat dicengkeramnya. Bersembunyi, namun berkali kali melongokkan mata bulatnya pada sepasang tanduk yang siap menyeruduk bidikan.
“KHOLIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIK,,,,…”
Semakin keras.
Tak hanya seolah - olah. Gemerutuk giginya mulai terdengar. Mengamuk benar - benar mengamuk. Sepasang matanya melotot, hidungnya mengendus kembang kempis dan siap menerkam.
“ HYAAAAAAAAAAAAAAAAAA,,,,JHIA  JHIA JHIA JHIAAAAAAAAAA TILUNG TILUNG, ULTRAMEN MEBIUUUUUUUUUUUUS.”
Tertawa girang. Loncat - loncat masih dengan gaya pahlawan yang dikenalnya. Bocah cilik berbadan gendut itu mengendap - endap memastikan lawannya telah mati.
“ HWAHAHHAA,,,KHAO KHHHOOOO….
HAIYYYAAAAAAAAAAAAAAAA JHIAA”
Gelap
Tersedu sedan mata bulat itu hanya dapat menatap nanar laki laki berjenggot di hadapannya.  Membiarkan wajah angkernya semakin angker didera emosi oleh ulah bocah kecilnya. Sudah biasa, tapi entah kali ini wajah angker itu tampak tak seperti biasanya.
Diliriknya diam diam laki - laki di hadapannya. Benarkah laki - laki yang dipangggilnya Ayah  telah benar -  benar enggan menganggapnya sebagai anak?
Aach bocah kecil itu masih terlalu dini dan tak mengerti. Tapi ia tahu ayahnya benar  - benar marah hingga tak segan -  segan mendaratkan tamparan ke pipi tembemnya. Sakit, ia hanya dapat menangis sembari memegangi pipinya yang memerah.
Tak hanya sekali, laki - laki itu benar - benar kalap hingga kedua kalinya tangan kanannya mendarat lepas membuat bocah ciliknya kesakitan. Laki - laki itu masih saja mengamuk kesetanan, tidak peduli darah segar mengalir dari bibir putra kecilnya.
“ Dimana perempuan yang biasa membelanya?”
Bocah cilik itu bertanya - tanya, namun tersekat oleh isak tangis yang tak mampu ditahannya. Suaranya tercekat oleh ketakutan yang mendera. Sosok di hadapannya tak lagi seperti monster yang membuat anak - anak kecil lari tunggang langgang atau bersembunyi di ketiak Ibunya sembari mencengkeram erat perempuan terhebatnya. Begitu juga ia, bocah cilik itu hanya dapat tertegun, sesunggukan menguatkan nyali untuk lari,  menghindar dari semuanya.
Takut
Bocah cilik itu benar - benar takut, ia tak dapat balas menyerang seperti halnya Ultramen menyerang balik monster - monster yang dihadapinya.
“ HWEEECH bocah tengil, mau kemana kau?”
Lari terus berlari tanpa ada yang peduli. Sosok perempuan yang biasa membelanya tak lagi ada, MATI.
***
“ Mas,…”
Bocah cilik itu tersenyum menghentikan sejenak aktivitas bermain kelerengnya. Berlari - lari kecil hingga membuat laki - laki tua yang memanggilnya tertawa melihat pipi tembemnya naik turun.
“ Abah Kakung, ini lokoknyaaaaa.”
Laki -  laki yang dipanggilnya Abah  Kakung tersenyum, meminta bocah cilik itu mendekat dan duduk di pangkuannya. Bocah cilik itu menurut sembari menyelipkan rokok yang belum dinyalakannya  ke bibir  laki -  laki yang baru dikenalnya.
Senyumnya mengembang seolah lupa laki laki yang memangkunya bukanlah yang biasa dipanggilnya Ayah. Ia tak peduli, hanya sedikit rasa rindu pada sosok perempuan yang tidak lelah membangunkan, memandikan, memakaikan seragam sekolah, menyuapi dan…..
Lagi - lagi ia tersenyum memperlihatkan giginya yang keropos. Laki laki tua itu balas tersenyum dan merangkulnya erat.  Damai!
Iklok bismilobbikalladi kolak, kolakol ingsanamin alak, iklok walabbukal akram, alladi allama bil qolam, allamal insana ma lam….lam….lam,,,,”
 “ Ya’lam”
Sepontan bocah cilik itu tertawa, kemudian malu - malu mengikuti gerakan bibir Abah Kakungnya.
“Yaklam, yaklam, yaklam hehehhe.”
Abah Kakung,…
Laki - laki tua itu tersenyum menyalakan rokoknya sembari mendengarkan bibir mungil bocah cilik itu  terus menerus melafalkan surat Al- Alaq.
Bacalah dengan ( menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah, dan tuhanmulah yang maha mulia
Yang mengajar ( manusia dengan pena)
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
***

Iqro’, bacalah,,,…
Senja masih menampakkan keeksotisannya. Sedikit agak berbeda, mungkin karena peralihan musim begitu Abah Kakung menyebutnya. Enam bulan berlalu, bocah cilik itu mulai menampakkan perkembangannya.
“ Abah Kakung…” Panggilnya sedikit agak keras. Abah Kakung tersenyum. Seperti biasanya, ia akan bergelayut manja sembari menyelipkan rokok di bibir laki laki yang tak lagi asing di kehidupannya.
Memandang tajam sekali - kali tertawa oleh asap rokok yang membumbung menghiasi langit langit senja. Entah sudah yang kesekian senja, dilewatinya dengan hal yang sama. Mendengarkan Abah Kakung mendendangkan kalam - kalam tuhan, muthola’ah kitab dan membaca asmaul husna.
Sekali - kali saat ia jenuh, diambilnya kelereng atau apa saja yang dapat mengalihkan kejenuhannya. Bermain tanpa takut ditegur dan diteriaki Abah Kakung. Bebas benar benar bebas. Bahkan pada saat ia  kalap dan tak mau berhenti bermain, Abah Kakung membiarkannya. Sebagai gantinya, Abah Kakung meminta kaki - kaki kecilnya  berjalan pelan di atas punggungnya dan menyelipkan rokok ke bibirnya tanpa harus menyalakannya terlebih dahulu.
“ Abaaah Kakung.”
Lagi lagi Abah Kakung tersenyum, menghela nafas sejenak kemudian bercerita dengan cerita yang sama seperti saat pertama kali lisan Abah Kakung bertutur tentang kisah Rasul dan wahyu pertamanya.
“ Perempuanku, bocah kecilmu rindu.”   Bisiknya rindu sembari memandang lepas sedikit bernostalgia dengan senja. Senja yang telah lapuk lebih tepatnya. Haaach bulir - bulir rindu ternyata tak dapat diingkarinya. Melihat kegirangan yang memudar, Abah Kakung menghentikan sejenak berceritanya.
“ Mas Kholik rindu sama ayah dan Ibu?”
“ Aaah,,,nggak Abah Kakung. Gak suka sama meleka.”
Abah Kakung manggut manggut kemudian melanjutkan ceritanya. Diliriknya diam -  diam bocah kecil di pangkuannya, Abah Kakung merasakan  ada yang berbeda.   Mata bulatnya tampak sayu, bahkan saat Abah Kakung sengaja melencengkan ceritanya, bocah cilik itu hanya diam tak memprotesnya.
“Mas Kholik rindu sama ayah dan Ibu?” Tanya Abah Kakung yang kedua kalinya.
“ Kholik gak suka sama meleka. Meleka jahat gak sepelti malaikat.”
Gleeer…
Suara petir menyambar membuat bocah kecil begidik ketakutan. Seperti enam bulan yang lalu saat ia memutuskan pergi jauh menghindar dari amukan ayahnya. Ia lelah terhadap mereka yang hanya bisa memaksa menuntutnya seperti teman - teman lainnya, bisa menulis huruf dan membaca dengan baik.  Mereka tak pernah memberikan solusi, bagaimana agar ia dapat menulis tanpa harus terbolak balik. Mereka tak peduli dan tak pernah mau mengerti mengapa huruf B menjadi D.
Jengah
Bocah cilik itu benar - benar jengah. Lelah oleh ratapan, kecaman dan tindakan kasar orang tuanya. Dimata mereka, bocah cilik bernama Kholik adalah kesalahan  tuhan dan derita yang selalu menggelayuti keluarganya.
Mereka mengeluh, entah sudah berapa sekolah yang angkat tangan dan menyarankan orangtuanya menyekolahkan Kholik ke sekolah luar biasa.
“ Anakmu aneh tak seperti anak - anak yang lainnya. Lihat saja gaya bicaranya, bola mata dan kepalanya memutar. Dan ketika ketakutan, seperti tikus asik memainkan jemarinya hahhaha.”
Semuanya tertawa oleh banyolan kepala sekolah. Tanpa pikir panjang, ditariknya tangan Kholik, pergi….
***
Mereka tak seperti malaikat
 “Duh Gus ti, beri hamba kekuatan untuk dapat menghapus  sakitnya.” Rintih Abah Kakung di sela - sela sujudnya.
Terisak
Kelopak mata yang kian hari kian menggelambir tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Dalam hati Kholik yang kini tumbuh dewasa hanya dapat diam menerka, mungkin Abah Kakungnya merindukan istrinya.
Sepertihalnya dia,,,
Yang diam - diam tak dapat mengingkari kerinduannya pada perempuan yang dipanggilnya Ibu. Baginya, perempuan itu telah mati. Tapi….
Semenjak dewasa, ia tak yakin perempuan yang tak kalah bringas dengan Ayahnya benar benar mati. Ia tak akan mati di tangan ultramen yang hanya bersenjatakan roket kala itu. Dia hanya pingsan, mungkin…
“ Abah rindu sama Eyang putri?” Tanya Kholik selepas mencium tangan keriput Abah Kakungnya.
 Eyang putrimu seperti malaikat. Dia tak perlu dirindukan, jika hanya akan menimbulkan kesedian. Menjaga apa yang dulu menjadi idenya, adalah cara Abah Kakung untuk meluapkan rindu. Bukan membenci, karena ia tak lagi dapat menemani Abah Kakung muthola’ah, nderes atau bersenggama dengan senja.”
Kholik tersenyum getir betapa tak beruntungnya dia yang tak diizinkan Allah bertemu perempuan berhati malaikat itu.
“ Seandainya….”
Kholik segera membuang jauh pengandainnya. Ia tak ingin menghakimi taqdir yang tidak menjadikannya terlahir dari rahim istri Abah Kakungnya. Tapi tuhan maha adil. Diantara tangan tangan mereka yang tak seperti malaikat, tuhan membiarkannya pergi dan bertemu dengan laki - laki yang kini dianggapnya sebagai Abah Kakungnya.
“ Ayah, Ibu….
Putra tololmu tak lagi membencimu. Suatu saat, kita akan bertemu.”
***
Senja telah benar benar perlahan menelan masanya
Membiarkan si udik nan kerdil ini
Berjalan sendiri
“ Pripun, Mas?”
Hening
Tak sedikitpun Kholik bergeming. Diam, tapi bukan berarti tak merespon. Ia hanya masih tak percaya laki - laki yang terakhir kali dianggapnya merindu itu, ternyata benar benar merindu. Merindu tuhan dan merindu perempuan pemilik ide…….
“ Aaaaaaackh mengapa kau biarkan aku tersiksa  oleh mereka yang merindukanmu, Abah Kakung? Bukankah kau telah damai berkawankan tuhan dan perempuan yang kau cintai? Kenapa harus aku, tak salahkah mereka memintaku meluapkan rindu dengan menjaga apa yang telah menjadi ide perempuan terkasihmu selain Ibumu?”
Masih saja hening. Sungguh Kholik  masih belum siap mengiyakan apa yang diminta laki - laki sebaya di hadapannya.  Menggantikan Abah Kakungnya melebur bersama mereka tak sekedar berangkulan, akan tetapi merangkul siapapun dan kapanpun bukanlah hal yang mudah. Ia takut ketika memaksakan diri merangkul, tangannya tak sampai. Jika harus dipaksakan, tidakkah ada yang terluka?
“ Pripun, Mas?” Tanya kang Anshori, begitu para santri memanggilnya.
Kholik menghela nafas sejenak, menatap lamat - lamat laki - laki bersarung bernama Anshori. Yang dilihatnya hanya dapat merunduk, diam seperti halnya dia yang tak bergeming sebelumnya.
“ Saya itu orang bodo. Baca tulis saja tidak bisa, bagaimana bisa mengajar? saya gak memiliki keahlian apa - apa selain menyelipkan rokok di bibir Abah Kakung  tanpa harus menyalakannya. Sampean ngerti thoooooooooooo? Saya tidak bisa!” Jawab Kholik tegas khas dengan gaya berbedanya, gerakan tangan dan kepala yang berlebihan serta intonasi yang terlalu rendah dan tak jarang panjang dan sedikit tinggi.
“ Bagaimana saya tidak yakin, sampean hafal Al-Qur’an tanpa menghafalnya.  Itu karena senja yang sering sampean lewati  dengan menyelipkan rokok di bibir Kiai tanpa harus menyalakannya. Adakah pada saat sampean bersama Kiai, Kiai tidak sedang muthola’ah kitab, nderes  Al-Qur’an, melafalkan asmaul husna dan bercerita  tentang hal yang sama?”
Lagi - lagi Kholik hanya dapat diam. Ia tak tahu harus membalas apa, dengan apa yang baru saja diucapkan Anshori.
“ Sampean, Mas. Sampean! Yaach sampeanlah  yang ditunjuk Allah menjaga ide mediang istri Kiai untuk mengembangkan pesantren ini. Sampean tahu dan bahkan sampean sangat mengagumi Rasulullah yang tak bisa baca tulis, akan tetapi bisa membawa umat dari kegelapan menuju cahaya terang.”
“ Hahahaha,,,,itu Rasulullah kang, bukan Kholiiiiiiiiiiiiiiiiik.”
“ Sama-  sama kalam allah yang pertama kali diucapkan dan dihafal adalah Al –Alaq 1-5. Dulu sampean melafalkannya lancar sekali, dan terhenti pada lafal ya’lam. Itu karena sampean lupa, mas. Sungguh setiap kali Kiai bercerita tentang kelupaan sampean, saya merasa antara ya’lam dan penerus Kiai selanjutnya adalah sampean.”
“ HAHAHHAHHAAAA…..lucu… lucu… lucu… lucu….”
 ‘Alamal insana malam ya’lam, dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ya’lam, ya’lam, ya’lam.”  Kata Anshori kemudian pergi meninggalkan Kholik.
“ HAHAHHAAAA…HAAA,,HA…HA”
Kholik tertawa semakin keras. Namun tak lama saat ia menyadari ada yang tertinggal atau sengaja ditinggal, entahlah! perlahan tawa kerasnya melunak. Sepi!
***
Alif
Lam
Mim
‘allima ya’lamu ‘ilman
Innallaha la yugoyyiru ma biqoumin hatta yugoyyiru ma bianfusihim
“ Aku pasti bisa!” Ucap Kholik yakin, tegas dan tak seperti biasanya kemudian memasuki aula yang biasa digunakan mengaji para santri.
Semua santri terhenyak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aaach…laki - laki kerdil itu tampak ganteng bersarung, berpeci dan berbaju koko.
“ Woooch,,,gowo kitab e kang, terus piye mocone?” ceplos salah seorang santri khas dengan logat jawanya.
Kholik tak mengindahkan keributan yang terjadi diantara santri- santri Abah Kakungnya. Ia yakin kebingungan mereka akan terjawab seiring berjalannya waktu.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri
Kholik tersenyum sembari membaca kalam Allah yang membuat para santri terpana, bingung dan entahlah. Banyak hal yang tidak mereka ketahui. Mereka sibuk menduga, mungkinkah ini karena keberkahan sang Kiai? Tapi, biarlah….
          Kholik tak peduli. ia hanya tersenyum sembari menatap lekat satu - satunya  seseorang yang berlinang air mata keharuan.
“ Terimakasih, Anshori. Telah kau kenalkan aku dengan keanehanku. Disleksia namanya.Penyakit yang membuat pengidapnya kesusahan membaca, menulis dan berbicara. ” Ucap Kholik dalam hati.
 “Innallaha la yugoyyiru ma biqoumin hatta yugoyyiru ma bianfusihim Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri”
Angan Kholik melayang  menyelami senja yang pernah membuatnya menertawakan Anshori karena ide yang dianggapnya gila. Ternyata, emang benar - benar gila. Anshori gila begitu juga dengannya. Tapi tuhan benar - benar sesuai janjinya, bahwa ia tak akan menelantarkan sejenakpun hambanya dari ketakutan, ketidak mengertian, kelaparan, kehausan, bahkan terhadap orang gila sekalipun asal,,,,,
“ Mereka berkenan berusaha.” Jawab santri yang mulai luluh dan tak lagi menyangsikan makhluk kerdil pengganti Kiainya.
Kholik mengangguk, tersenyum dan tak hentinya bersyukur karena allah memberikan kejutan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Dapat membaca, menulis seperti teman teman yang lainnya, adalah mimpi orang tua Kholik, bukan mimpinya.
Dulu ia jengah dan benci sekali dengan yang bernama huruf, tak peduli latin ataukah arab. Karena huruf - huruf itulah yang membuat orang tuanya tak berbelas kasih padanya. Tapi kini, melalui flasdisk Anshori yang tertinggal saat anshori memintanya menggantikan posisi Abah Kakungnya, Kholik berani lancang membuka dan mengkopi paste film Taare Zameen Par kemudian menontonnya.
Dari situlah, ia menemukan dirinya  tak jauh beda  dengan Ishan bocah cilik yang kehilangan senyumnya karena menjalani hidup yang berbeda. Tidak bisa membaca dan menulis, akan tetapi dituntut orang tuanya untuk bisa tanpa dicarikan solusinya. Bocah cilik itu memberontak dan sering kali bikin ulah maka tak heran jika orang tuanya sering memarahinya.
Berbeda saat ketika bocah cilik itu menemukan dunianya. Senyumnya merekah dan semangat untuk bisa membaca dan menulis seperti teman  yang lainnya.
  Hweeee,,,, mas Kholik Senyam senyum sendiri lhoo….” Teriak Anshori membuat seisi aula riuh tertawa oleh kelakuan Kiai barunya.
“ Hahahaha,,,”
  Sekelebat
Ia benar - benar rindu
Bercerita
Sembari menyelipkan cerutu diantara bibir Abah Kakungnya
The End






Tidak ada komentar:

Posting Komentar